Jumat, 25 Mei 2012

ruang lingkup pembahasan ilmu kalam


ILMU KALAM
 Makalah
Tentang
Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Kalam

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam
 





Oleh :
Handayani          :310.006


                  Dosen pembimbing:
    AULIA FAHMI. MA


JURUSAN PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM ( PMH ) FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
IMAM BONJOL PADANG
2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur  selalu kita panjatkan  atas kehadiran Allah, yang selalu mencurahkan rahmat dan karunia Nya kepada kita dan terutama kepada penulis makalah ini, karna berat rahmat dn karunia Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ilmu kalam ini, yang membicarakan tentang ruang linkup ilmu kalam, hubungan ilmu kalam dengan filsafat, serta hubungan ilmu kalam dengan tasawuf.

Selanjutnya salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, karna berkat beliau lah kita dapat mengecap manisnya ilu pengetahuan seperti yang kita rasaka pada saat sekarang ini. Seterusnya ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada dosen pembimbing kita yang telah mempercayai kami untuk menyelesaikan makalah ini, dan kepada kawan-kawan yang telah ikut berpartisifasi dengan kami.





Padang,  2 April 2011                      

Penulis                       


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………….............    2
DAFTAR ISI………………………………………………………………… ..     3
BAB I         : PENDAHULUAN………………………………………………     4
BAB II       : PEMBAHASAN…………………………………………...........     5
1.     Ruang Lingkup Ilmu Kalam…...………….……………………    5
2.     Hunbungan Ilmu Kalam Dengan  Filsafat, dan Tasauf………...     6
3.     Titik Persamaan antara Ilmu Tauhid, Filsafat, dan Tasauf…......    6
4.     Titik Perbedaan………………………………………………….   9
5.     Penjelasan tentang tauhid…………………………………….....  10
BAB III   :KESIMPULAN………………………………………...................    12
DAFTAR REFERENSI……………………………………………………......   13







BAB I
PENDAHULUAN

Islam ternyata tidak sesempit yang di pahami orang pada umumnya. Dalam sejarah  terlihat bahwa islam yang bersuber kepada Al-Qur’an dan Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan mesyarakat luas. Dari persentuhan tersebut lahir berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti:
v  Ilmu kalam
v  Filsafat
v  Tasawuf
Dalam ketiga bidang disiplin ilmu keislaman tersebut terdapat bintang-bintang pakar ensiklopedik yang bertaraf internasional dan pemikiran mereka hingga sekarang masih tetap relevan. Melalui tangan tangan kreatif merekalah ilmu pengetauan yang berada  di belahan timur dan Yunani yang hamper hancur dapat diintegrasikan kembali sehingga lahir dalam sosok baru yang disoroti dengan nuansa keislaman. Karya mereka hingga sekarang memenuhi pustaka-pustaka baik di timur maupun di barat.
Dan ketiga disiplin ilmu di atas lah yang akan penulis coba paparkan di dalam makalah ini, yaitu tentang ruang linkup ilmu kalam, hubungan ilmu kalam dengan tasawuf serta hubungan ilmu kalam dengan filsafat. Sebelumnya kami sebagai pemakalah minta maaf apabila ada kesalahan terdapat dalam makalah kami,hal itu karna kurangnya ilmu dan reverensi kami.




BAB II
PEMBAHASAN
RUANG LINGKUP PEMBAHASAN ILMU KALAM
Sebelum kita masuk kepada ruang lingkup ilmu kalam, kita akan membahas sedikit tentang ilmu kalam itu sendiri. Ilmu kalam adalah istilah laim dari aqidah. Kalam artinya berbicara, atau pembicaraan.[1]
Dinamai dengan ilmu kalam karna banyak dan luasnya dialog dan perdebatan yang terjadi antara pemikir  aqidah  tentang beberapa hal. Misalnya, tentang Al-Qur’an apakah khaliq atau bukan, hadist atau qadim. Tentang taqdir, apakah manusia punya hak ikhtiar atau tidak. Tentang orang yang berdosa besar, kafir atau tidak, dan lain sebagainya. Pembicaraan dan perdebatan luas seperti itu terjadi setelah cara berfikir rasional dan filsafat mempengaruhi ulama-ulama dan pemikir-pemikir Islam.
1.     RUANG LINGKUP ILMU KALAM
Ruang lingkup ilmu kalam[2]adalah:
a)     Ilahiah
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan Ilah (Tuhan,Allah) seperti wujud Allah, nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah, af’al dan lain sebagainya.
b)     Nubuwat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasulullah, termasuk pembahasan tentang kitab-kitab Allah,mu’jizat. Karamat dan lain sebagainya.

c)      Ruhaniyah
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, Syetan, Roh, dan lain sebagainya
d)     Sam’iyyat
Yaitu segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i (dalil naqli berupa Al-Qur’an dan sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka, dan lain sebagainya.
Disamping sistematika di atas, pembahasan ilmu kalam juga bisa mengikuti sistematika arkamul iman[3], yaitu:
Ø  Iman kepada Allah SWT
Ø  Iman kepada Malaikat
Ø  Iaman kepada kitab-kitab Allah
Ø  Iman kepada Nabi dan Rasullah
Ø  Iman kepada hari kiamat
2.     HUBUNGAN ILMU KALAM DENGAN FILSAFAT dan TASAWUF
Ø  Filsafat
Filsafat berkembang di timur tengah bermula ketika oleh Alexander yang berusaha untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Dia juga mendirikan sekolah-sekolah baru dengan pemikiran filsafat yang diarahkan kepada soal-soal etika, yaitu bagaimana manusia harus mengatur tingkah laku untuk hidup bahagia.
Dan seterusnya dilanjutkan oleh khalifah bani Umaiyah yang menerjemahkan karya-karya pengetahuan dan filsafat Yunani ke dalam bahasa arab[4]. Melalui penerjemahan itulah para cendikiawan Islam dapat mengetahui ilmu pengetahuan dan filsafat. Dan penerjemahan itu selanjutnya dikembangkan oleh Khalifah Abbassiyah dengan cara menyuruh para ahli untuk menyalin buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab, mendirikan madrasah dan menerbitkan kitab-kitab yang lengkap.
Sehingga bermunculan ahli-ahli, seperti Muhammad, Ahmad dan Hasan yang ahli di bidang matematika. Al-Asma yang ahli ilmu pengetahuan alam. Kabir di bidang kimia, Al-biruni di bidang astronomi, geografi, sejarah, dan matematika, Ibnu al-Haitan di bidang optika dan lain-lain[5].
Dengan masuknya filsafat ke dunia  Islam terutama filsafat ketuhanan, nampaknya menimbulkan berbagai macam persoalan,di antaranya sejauh mana pertaliannya dengan ilmu kalam.[6]
                    I.            Pertalian antara ilmu kalam dengan filsafat
aa) Sama-sama mempergunakan dalil akal.
Pengguanaan akal begi filosof tidak lah asing lagi, karna inti dari filsafat adalah kerfikir.  Dan untuk ilmu kalam untuk merumuskan dalil-dalil dalam menetapkan aqidah Islamiyah juga menggunakan akal.

ab) Bertujuan sama mencari kebenaran
Dengan ringkas dapat di pahami bahwa kedua ilmu ini sama-sama mencari hakekat atau kebenaran yang sesungguhnya.karna persamaan itulah para penulis barat (H. Ritter, E. Renan, Tenneman Haarbrucher) mengatakan “aliran-aliran teologi Islam mencerminkan filsafat Islam yang sebenarnya”.
Ø  Tasawuf
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam melalui hati (dzauq dan wijdan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu tasawuf lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurnaan ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniyah dari ilmu tauhid[7].
Ilmu kalam pun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, maka hal itu harus ditolak.
Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaan rohaniyah dalam perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional dan muatan naqliyah. Jika tidak diimbangi oleh kesadaran rohaniayah. Ilmu kalam dapat bergerak ke arah yang lebih liberal dan bebas. Disinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qalbiyah (hati). 
Bagaimanapun amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam ketauhidan. Jika rasa sabar tidak ada, misalnya, muncullah kekufuran. Jika rasa syukur sedikit, lahirlah suatu bentuk kegelapan sebagai reaksi.
Begitu juga ilmu tauhid dapat memberi kontribusi kepada tasawuf. Sebagai contoh, jika cahaya tauhid telah lenyap, akan timbullah penyakit –penyakit qalbu, seperti ujub, congkak, riya’, dengki, hasud, dan sombong. Andaikata manusia sadar bahwa Allah-lah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna. Kalau saja dia tahu kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak memiliki rasa sombong dan membanggakan diri. Kalau saja manusia sadar bahwa dia betul = betul hamba Allah, niscaya tidak akan ada perebutan kekuasaan. Kalau saja manusia sadar bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya’. Dari sinilah dapat dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah (pendakian para kaum sufi)[8].
Untuk melihat lebih lanjut hubungan antara ilmu tasawuf dan ilmu tauhid, alangkah baiknya bila kita memperhatikan paparan Al-Ghazali. Dalam bukunya yang berjudu Asma – Al-Husna, Al-Ghazali menjelaskan dengan baik mengenai persoalan tauhid kepada Allah, terutama berkenaan dengan baik mengenai persoalan tauhid kepada Allah, terutama dengan nama-nama Allah yang merupakan materi pokok ilmu tauhid.. nama Tuhan Ar-Rahman dan Al-Rahim, pada aplikasi rohaniahya merupakan sifat yang harusd iteladani. Jika sifat Ar-Rahman ddiaplikasikan, seseorang akan memandang orang yang durhaka dengan kelembutan bukan kekerasan; melihat orang dengan mata rahim, bukan dengan mata yang menghina, bahkan ia mencurahkan ke-rahim-annya kepada orang yang durhaka agar orang tersebut dapat diselamatkan,. Jika melihat orang lain menderita atau sakit, orang yang rahim akan segera menolongnya. Nama lain Allah yang patut diteladani adalah Al-Dudus (Mahasuci). Seorang hamba akan suci kalau berhasil membebaskan pengetahuan dan kehendaknya dari khayalan dan segala persepsi yang dimiliki binatang.
Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi akan dinamis dan aplikatif.
3.     TITIK PERSAMAAN ANTARA ILMU TAUHID, FILSAFAT DAN TASAWUF
Ilmu Kalam, filsafat dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu dengan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya. Jadi dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu membahas tentang masalah yang berkaitan dengan ketuhanan
Baik ilmu kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia atau tentang Tuhan. Sementara itu Tasawuf dengan metodenya yang tipikal berusah menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan kebenaran spiritual menuju Tuhan.
4.     TITIK PERBEDAAN ANTARA ILMU TAUHID, FILSAFAT DAN TASAWUF
Perbedaan diantara ketiga Ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika disamping argumentasi-argumentasi naqliyah berfungsi untuk empertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai apologinya. Ilmu Kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional, sebagian ilmuan berpendapat bahwa ilmu ini keyakinan-keyakinan kebenaran agama, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
Sementara itu filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional, metode yang digunakanpun adalah metode rasional. Filsafatmenghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam); tidak merasa terikat oleh iketan apapun, kecuali oleh ikatan tanganya sendiri bernama logika.
Adapun ilmu tasawuf aedalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh oleh rasa, ilmu tasawuf bersifat sanagt subyektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya bahasa tasawuf tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio, hal ini karena pengalaman rasa sangat sulit dibahasakan.
5.     PENJELASAN TENTANG TAUHID
Tauhid artnya mengesakan ( mengesakan Allah–tauhidullah ). Ajaran tauhid adalah tema sentral aqidah dan iman, oleh karena itu aqidah dan iman diidentikkan dengan istilah tauhid[9].
Tauhid adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas  tentang wujud Allah., tentang sifat-sifat yang wajib tetap padaNya, juga menjelaskan tentang ara Rasul Allah, meyakinkan kerasulan mereka, meyakinkan apa yang wajib ada pada mereka.
Asal makna tauhid adalah meyakinkan bahwa Allah itu satu tidak ada syarikat bagi Nya. Sebab ndi namakan ilmu tauhid adalah karna  bagian yang terpenting menetapkan sifat wahdah bagi Allah[10].
Dalam hubungan antara Allah dengan hambaNya, baik keyakinan, pengakuan dan pengabdian, sebagian ulama mutakallimin membagi tauhid kepada beberapa macam, sebagai berikut:
v  Tauhid rububiayah
Tauhid rububiyah adalah pengakuan yang bulat atau keyakinan penuh bahwa Allah sajalah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini[11]. Dan juga kepercayaan manusia atas ke Maha kuasaan Tuhan, Maha melihat Tuhan, seperti yang terdapat di Asmaul-husna[12].
v  Tauhid huluhiyah
Tauhid uluhiyah juga di sebut tauhid ubudiyah yaitu penyembahan. Maksudnya, hanya Allah sajalah satu-satunya yang patut disembah, tidak boleh ada menghadapkan pengabdian kepada selainNya[13].
Dan kepercayaan manusia kepada Tuhan dalam bentuk menta’ati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.[14]
v  Tauhid sifat
Ialah pemahaman tauhid kepada Allah yang mempercayai bahwa Allah itu mempunyai sifat-sifatyang sempurna dan tidak serup dengan sifat-sifat yang dimiliki makhlukNya.






BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa ruang lingkup ilmu kalam itu ada empat, yaitu:
v  Ilahiyat
v  Nubuwat
v  Ruhaniyat
v  Sam’iyyat
Dan antara ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf sangat erat hubungannya, karna ketiga-tiganya saling terkait antara satu dengan yang lain. Filsafat tidak akan benar tanpa di iringi dengan Aqidah yang benar dan pengamalan tasawuf juga brperan untuk mencapai hasil filsafat yang bagus. Begitu juga dengan tasawuf, aliran tasawuf tidak akan bisa di akui tanpa adanya penalaran filsafat dan peninjauan Aqidah.
Selanjutnya tentang masalah tauhid, tauhid adalah ilmu yang mebahas tentang keesaan Tuhan atau ilmu yang mengesakan Tuhan serta sifat-sifat Tuhan itu sendiri.bahwa Tuhan itu satu tidak ada syerikat denganNya. Untuk Tauhid dibagi oleh ulama mutakallimin menjadi tiga bagian, yaitu:
o   Tauhid rububiyah
o   Tauhid uluhiyah/ubudiyah
o   Tauhid sifat






REFERENSI


Nata, Abuddin, Ilmu Kalam  Filsafat dan Tasawuf, Jaya Grafindo Persada
Ilyas,Yunahar,  Kuliah Aqidah Islam, LPPI
Syekh Abduh, Muhammad, Risalah Tauhid, Bulan Bintang
Kamal, Tamrin, TEOLOGI ISLAM Mengawali Studi Ilmu Kalam Dengan Pemahaman Tauhid
Afif, Abdullah, Tauhid Dalam Pendekatan Fisika Modern
Nasution, harun, Teologi Islam, Jakarta, UI Press, 2010
Ghazali, Adeng Muchtar, Perkembangan Ilmu Kalam, Bandung, cet. I, 2005
Rozak, Abdul, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Bandung, 2006
www.goggle.com
www.goggle.com
  









[1]  Ilyas,Yunahar, Lc, M.A, Kuliah Aqidah Islam, LPPI, hal: 5
[2] Ibid, hal: 6
[3] www.goggle.com
[4] Nata, Abuddin, Ilmu Kalam  Filsafat dan Tasawuf, jaya grafindo persada, hal, 45
[5] Ibid, hal, 51
[6] Kamal, Tamrin, TEOLOGI ISLAM Mengawali Studi Ilmu Kalam Dengan Pemahaman Tauhid, hal: 38
[7] www.goggle.com
[8] Op, cit, hal, 75
[9]  Ilyas,Yunahar, Lc, Kuliah Aqidah Islam, LPPI, hal, 5
[10] Syekh Abduh, Muhammad, Risalah Tauhid, bulan bintang, hal, 3
[11] Kamal, Tamrin, TEOLOGI ISLAM Mengawali Studi Ilmu Kalam Dengan Pemahaman Tauhid, hal, 14
[12]Afif, Abdullah, Tauhid Dalam Pendekatan Fisika Modern, hal,  16
[13] Op, cit, hal, 15
[14] Opcid, hal: 21

0 komentar:

Poskan Komentar