Jumat, 11 Januari 2013



RESUME

AKHLAK TASAWUF

Tentang

FAKTOR FAKTOR DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK

                                   
                                   




Oleh:
HANDAYANI
310.006
Dosen pembimbing:
EL KHAIRATI MA


JURUSAN PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYRI’AH
IAIN IMAM BONJOL PADANG
1432 H / 2011 M


FAKTOR FAKTOR DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK

1.Tabi’at(adat / kebiasaan)
Adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan, seperti berpakaian, makan, tidur, olahraga, dan sebagainya.Dengan demikian Abu zikri berpendapat:

“Perbuatan manusia, apabila dikrjakan secara berulang ulang sehingga menjadi mudah untuk melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan”.
Perbuatan yang telah menjadi kebiasaan, tidak cukup hanya diulang ulang saja, tetapi harus disertai kesukaan dan kecendrungan hati terhadapnya. Orang yang sedang sakit, rajin berobat, minum obat, mematuhi nasihat nasihat dokter, tidak bisa dikatakan kebiasaan, sebab dengan begitu dia mengharpkan sakitnya lekas sembuh. Apabila dia telah sembuh, dia tidak akan berobat lagi ke dokter. Jadi terbentuknya kebiasaan itu, adalah karena adanya kecendrungan hati yan g diiringi perbuatan.
Adapun ketentuan sifat sifat kebiasaan itu, ialah:
a.Mudah dilakukan
b.menghemat waktu dan perhatian
Hal ini dapat dilihat ketika orang baru belajar naik sepeda yang sering jatuh. Namun, dengan latihan berulang ulang akhirnya ia bisa naik sepeda dengan baik. Karena sudah menjadi kebiasaan, naik sepeda dilakukan dengan mudah. Juga ketika seorang anak baru belajar membaca. Pada awalnya sulit mengucapkan kata kata dengan mudah dan lancer. Dengan rajin belajar dan membaca, akhirnya si anak dapat membaca dengan lancar dan cepat.
Pada perkembangan selanjutnya suatu  perbuatan yang dilakukan berulang ulang dan telah menjadi kebiasaan, akan dikerjakan dalam waktu singkat, menghemat waktu dan perhatian. Kalau dia sudah pandai menulis, dengan sedikit waktu dan perhatian, akan menghasilkan tulisan yang banyak.
2.Lingkungan (milieu)
Salah satu aspek yang turut dalam memberikan saham dalam terbentuknya corak sikap dan tingkah laku seseorang adalh factor lingkungan dimana seseorang berada.
Milieu artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup, meliputi tanah dan udara, sedangkan lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti, negeri, lautan, udara dan masyarakat. Dengan perkataan lain, milieu adalah segala apa yang melingkupi manusia dalam arti yang seluas luasnya.
Milieu itu ada dua macam:
a.Milieu alam
b.Milieu rohani/social
            a.Lingkungan alam
            Alam yang melingkupi manusia merupakan factor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang. Lingkungan alam ini dapat mematahkan atau mematangkan petumbuhan bakat yang dibawa seseorang. Jika kondisi alamnya jelek, hal itu merupakan perintang dalam mematangkan bakat seseorang, sehingga hanya mampu berbuat menurut kondisi yang ada. Sebalinya jika kondisi alam itu baik, kemungkinan seseorang dapat berbuat lebih mudah dalam menyalurkan persediaan yang dibawanya lahir dapat turut menentukan. Dengan kata lain kondisi alam ini ikut mencetak akhlak manusia yang dipangkunya.
            Orang yang tinggal di gunung gunug dan di hutan hutan akan hidup sebagai pemburu atau petani yang berpindah pindah, sedang tingkat kehidupan ekonomi dan kebudayaannya terbelakang dibandingkan dengan mereka yang hidup di kota.Adapun masyarakat yang hidup di pantai pantai, dipengaruhi yang mencetak budaya mereka sebagai nelayan dan bahariawan dan tingkah laku merekapun selalu berafiliasi ke laut. Orang orang yang menempati daerah pertanian yang subur terbentuk pula kelakuannya oleh suasana pertanian. Daerah  kutub yang dingin membuat orang orangnya berpakaian dan tata cara yang khas, selalu memakai baju tebal dan memakan binatang binatang yang tersedia di kutub. Sedangkan manusia padang  pasir gersang, panasnya udara mengukir pula kelakuan mereka sehari hari, baik ekonomi maupun budayanya.
            b.Lingkungan pergaulan
            Manusia hidup selau berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam pikiran, sifat dan tingkah laku.
            Lingkungan pergaulan ini dapat dibagi kepada beberapa kategori:
1.Lingkungan dalam rumah tangga: akhlak orang tua dirumah dapat pula mempengaruhi akhlak anaknya.
2.Lingkungan sekolah: akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan yang diberikan oleh guru guru di sekolah.


3.Lingkungan pekerjaan: suasana pekerjaan selaku karyawan dalam suatu perusahaan atau pabrik dapat mempengaruhi pula perkembangan pikiran, sifat dan kelakuan seseorang.
4.Lingkungan organisasi jama’ah: orang yang menjadi anggota dalam suatu  organisasi (jama’ah) akan memperoleh aspirasi cita cita yang digariskan oleh organisasi itu. Cita cita itu mempengaruhi tindak tanduk anggota organisasi. Hal itu tergantung pula kepada lonngar4 dan disiplinnya organisasi.
5.Lingkungan kehidupan ekonomi (perdagangan): karena masalah ekonomim adalah masalah primer dalam hajat hidup manusia, hubungan ekonomi turut memepengaruhi pikiran dan sifat sifat seseorang.
6.Lingkungan pergaulan yang bersifat  umum dan bebas, contohnya akibat pergaulan seorang remaja dengan rekan rekannya yang sudah ketagihan obat bius(morphinis), maka dia pun akan terlibat menjadi pencandu obat bius. Sebaliknya jika remaja itu bergaul dengan sesame remaja dalam bidang bidang kebajikan, niscaya pikirannya, sifatnya, dan tingkah lakunya akan terbawa kepada kebaikan.
3.Pendidikan
Pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan perilaku akhlak seseorang. Sebelumnya kita belum banyak tahu perhitungan, setelah memasuki jenjang pendidikan sedikit benyak mengetahui. Kemudian dengan bakal ilmu tersebut kita dapat memiliki wawasan luas dan diterapkan dalam tingkah laku ekonomi. dan tenaga pendidik harus propesional dalam bidangnya. Agar dapat memberi wawasan materi, mengarahkan dan bimbingan anak didiknya dengan baik.
Lingkungna sekolah dalam dunia pandidikan merupakan tempat bertemunya semua watak. Ada  anak yang nakal, berprilaku baik dan sopan dalam berbahasa dan sifatnya, pandai dalam berbicara, dan berinteraksi sesamanya.[1]




[1]zahruddin, pengantar studi akhlak, (jakarta: raja grafindo persada, 2004), hal. 95 

0 komentar:

Poskan Komentar