Jumat, 11 Januari 2013

IBNU SINA DAN PEMIKIRANNYA


IBNU SINA DAN PEMIKIRANNYA

A.    PENDAHULUAN
Sejarah tumbuhnya filsafat telah melahirkan beberapa definisi filsafat . dalam filsafat pun kita dapat definisi-definisi yang beraneka ragam, yang menurut satu sama lain berbeda apa yang di utamakan  oleh pencipta. Pengaruh keyakinan seorang ahli filsafat,begitu juga keadaan ia beragama, percaya kepada konsepsi ketuhanan sebagai yang tersebut dalam agama atau tidak selalu tersebut dalam agama atau tidak selalau tersalurkan kedalam kata kata yang digunakan untuk meringkaskan pengertian filsafat, begitupun dengan pemikiran-pemikiran para ahli filsafat.
Perubahan  pikiran  filsafat tidak berjalan begitu saja. Ia menempuh yang sangat panjang, Misalnya  Ibnu Sina, memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pandanagn yang mempengaruhi filsafatnya . ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan  keagamaannya secara simulatan mewarnai alam pikirannya. Dalam pemikirannya dia membahas tentang penciptaan alam, jiwa,akal manusia  yang mana Ibnu Sina ini melanjutkan teori  filsafat yang sudah diungkapkan oleh Al-Farabi Al-Kindi.  








PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pemikiran Ibnu Sina dalam bidang filsafat:
1.      Teori emanasi
Ibnu Sina dalam teori emanasi ini mengadakan sintesa antara filsafat dan ilmu kalam. Sesuai dengan prinsip agama islam, Ibnu Sina mengatakan bahwa dinia bukan azali, tetapi baharu yang didahului oleh keadaan tidak ada kemudian menjadi ada. Yang dikemukakan Ibnu Sina dalam teori Emanasi adalah proses kejadian alam ini, hal mana yang tidak disinggung  oelh agama.
2.      Filsafat Jiwa
Secara garis besar Ibnu Sina membagi filsafat jiwa kepada 2 bagian:
1.      Segi fisika,tentang macam-macam jiwa (tanaman,jiwa hewan, jiwa manusia).
2.      Segi metafisika, tentang wujud dan hakikat jiwa pertaliannya degan badan, keabadian jiwa.
3.      Filsafat wahyu dan akal
Akal materi merupakan akal yang terendah dan akal mustafat merupakan akal yang tertinggi. Akal inilah yang dapat menerima ilmu pengetahuan dan dengan mudah  dapat menerima cahaya atau wahyu dari tuhan. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh oleh manusia yaitu bentuk akal pada nabi-nabi.
4.      Filsafat wujud

 
Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang paling terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain walaupun dari esensi sendiri. Menurut Ibnu Sina esensi terdapat dalam akal sedangkan wujud terdapat diluar akal, wujudlag yang membuat setiap esensi dalam akal yang mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud esensi tidak begitu penting, karena wujudlah yang lebih penting dari esensi.

B.     Saran
Setelah mendiskusikan Makalah ini, pemakalah mengharapkan kepada kita semua untuk menggunakan potensi yang telah diberikan  Allah ke jalan yang diridhai-Nya, agar kita menjadi hamba-Nya yang benar-benar mengabdikan diri hanya kepada-Nya. Pemakalah juga mengharapkan kepada pembaca, sekiranya ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini, kami mengharapkan agar diberi kritik yang membangun , saran dan tambahan untuk melengkapi makalah ini.














 
 

DAFTAR  PUSTAKA

Ensiklopedi  Islam/Penyusun, Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam.-cet.4- Jakarta: Ichtiar aru Van Hoeve, 1997
Nasution, Hasan  Bakti, Filsafat Umum, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001
Syamsuddin,fachri, Dasar-Dasar  Filsafat Umum, Padang: Kartika Intan  Lestari, 2004
Zar, Sirajjudin, Filsafat islam, Padang:  PT Raja Grafindo,2004









0 komentar:

Poskan Komentar